Made Bayak

Bayak, lahir di Tampaksiring, Gianyar menunjukkan bakat seni dan musik yang menjanjikan sejak usia dini dan melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, 1999-2006.

Pada setiap kesempatan, dalam pameran tunggal, Bayak berusaha selalu mengundang anak-anak sekolah dan guru ke pameran dimana ia memimpin diskusi kelompok tentang isu-isu lingkungan yang diwakili dalam karyanya. Hingga saat ini ia masih melakukan presentasi dan workshop proyek seni plastisologi mandiri bersama sekolah dan masyarakat sekitar.

Bayak telah mengembangkan jaringan sosial besar yang memperkenalkannya pada banyak kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara penjangkauan masyarakat. Acara-acara ini menggabungkan berbagai mode ekspresi kreatif dan bertujuan untuk menarik perhatian anak muda, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari komunitas internasional Bali, terhadap isu-isu sosial, politik dan lingkungan yang relevan saat ini.
Dalam kebudayaan Bali, naga adalah simbol air/sungai, ekornya berada di gunung atau danau, badannya membentang sepanjang daratan menuju lautan. Kebudayaan manusia lahir dan berkembang dengan pesat di sepanjang aliran air tersebut. Peradaban air pun muncul. Dalam prosesi ritual pemujaan Hindu Bali elemen air adalah salah satu yang utama, sehingga ia disebut agama tirtha/agama air/pemuliaan akan sumber air sebagai sumber kehidupan.

Made Mulyana Bayak lahir di sebuah desa kecil di wilayah Tampaksiring dengan peradaban air Bali kuno di sepanjang sungai Pakerisan dan Petanu. Seiring dengan pesatnya perkembangan jaman, sungai-sungai tercemar oleh kebiasaan manusia membuang sampah. Sehingga munculah imagi-imagi “baru” dalam benak Bayak; mahluk-mahluk asing/monster/mahluk mitologi yang terbungkus oleh sampah plastik, selain berbagai macam Wong Samar dalam kepercayaan masyarakat lokal, yang “menghuni” jurang, sungai dan berakhir di lautan. Monster-monster sebagai mitos baru, sebagai simbol pasca konsumsi.

QR code di 2 figur karya ini akan menghubungkan pengunjung dengan proses pembuatan salah satu seri karya dan video dokumentasi proyek seni plasticology ini.

Bentuk karya yang terdiri dari kotak/persegi empat, bulat dan segitiga merupakan penyatuan konsep dasar Tri Semaya dalam kebudayaan Hindu Bali. Kehidupan kita hari ini hendaknya berkaca dari masa lalu, juga harapan untuk merumuskan masa depan.